Oleh Rizka Amelia Shofa dan Alif Maelani
FIAI, Deru Pos
Setiap pihak memunyai pandangan berbeda tentang Titip Absen (selanjutnya disingkat TA). Ditemui di sebuah tempat, ZR, mahasiswa yang mengaku pernah ketahuan TA mengungkapkan alasannya melakukan TA. Menurutnya, ia merasa malas dan merasa tidak nyaman dengan metode pembelajaran yang diterapkan oleh dosen. Akhirnya, ia memutuskan untuk TA.
“Kadang saya mikir, mahasiswa nggak masuk empat kali aja langsung nggak bisa ikut UAS. Nah, sedangkan dosen nggak masuk berkali-kali aja nggak ada sanksi apa-apa. Itu yang bikin mahasiswa menyepelekan peraturan presensi harus 75%,” tuturnya. Namun setelah “terkangkap basah”, ZR tidak memungkiri bahwa ada rasa takut untuk melakukan TA kembali.
Ketua Jama’ah Al-Faraby (JAF), Syaifulloh Yusuf berpendapat bahwa TA merupakan hal yang tidak perlu dilakukan. “Ibaratnya, membiasakan suatu keburukan. Jadi nilai keburukan itu menipis dan mulai bergeser menjadi sebuah kebiasaan,” ungkapnya saat ditemui di kantor lembaga.
Menurut Yusuf, lebih baik tidak merespon ketika ada rekan yang meminta tolong untuk TA. Itu merupakan salah satu solusi mengurangi permintaan TA. Ada cara lain juga untuk mengurangi kebiasaan TA di kalangan mahasiswa, yaitu dosen bisa meninjau kembali jumlah mahasiswa di kelas dengan presensi. Dengan demikian, akan terlihat mana yang TA dan mana yang tidak.
Ditemui di tempat lain, M Shadily Rumalutur, Ketua LEM FIAI berpendapat bahwa TA itu ibarat dua sisi koin. Di satu sisi kurang baik namun di sisi lain dibutuhkan dalam keadaan mendesak saat tidak sempat membuat surat ijin ketika tidak dapat mengikuti perkuliahan. Menurut Shadily, perlu diberikan peringatan kepada mahasiswa yang ketahuan TA. Namun jika mahasiswa tersebut masih melakukan TA, dosen bisa memberikan sanksi tegas.
“Sayapun pernah TA, kok. Bukan karena malas kuliah, tetapi karena memang ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Itu dulu waktu semester awal. Sekarang sudah tidak pernah,” tutur Shadily.
Redaksi turut mewawancarai Slamet Dalyono, salah satu petugas absensi FIAI. Dia mengungkapkan bahwa tugasnya hanya meninjau absen setelah kelas selesai. Jadi dia tidak tahu-menahu mana mahasiswa yang TA dan tidak.
Namun beliau memberi saran kepada mahasiswa yang tidak sempat membuat surat ijin ketika tidak dapat masuk kuliah. Mahasiswa tersebut dapat menghubungi bagian pengajaran via telepon. “Lebih baik telepon dan bilang kepada petugas absensi kalau tidak bisa masuk,” sambungnya.
Kemudian kami menemui Miss Puji Rahayu, S.Pd., MLST, seorang dosen Bahasa Inggris di FIAI untuk membicarakan fonema TA yang masih sering terjadi dikalangan mahasiswa. “Biasanya titip absen selalu dikait-kaitkan dengan solidaritas antar teman dan saling membantu. Pernah kok ada mahasiswa yang blak-blakan ngaku kalau dia TA,” tuturnya saat ditemui di gedung FPSB UII.
Sebagai dosen, dia tidak memberi sanksi kepada mahasiswa yang dimintai tolong untuk TA. Karena menurutnya, mahasiswa tersebut hanya sebagai objek. Yang seharusnya mendapat sanksi adalah mahasiswa yang meminta tolong saja. Biasanya dia memberikan sanksi berupa nilai D kepada mahasiswa yang ketahuan titip absen. Beliau melakukan hal tersebut bukan hanya sebagai sanksi terhadap pelaku TA tetapi juga agar dijadikan pelajaran bagi mahasiswa lain supaya tidak melakukan hal yang sama.
Rizka Amalia Shofa, Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Universitas Islam Indonesia
4/17/2012 11:48:00 AM
LPM PILAR DEMOKRASI






